Arsip Tag: Emereuw

Mar 28 2017

SEMINAR DOA PERSEKUTUAN “APA ITU DOA?”

Emereuw (27/3) – Doa Persekutuan adalah program dari unsur PAM khususnya Seksi Kerohanian yang bertujuan untuk menambah pengetahuan seputar doa serta mampu mengimplementasikan tiap materi dari doa persekutuan. Doa Persekutuan dilaksanakan tiap 3 bulan sekali dan terbuka untuk seluruh unsur. Latar belakang dari program pelayanan ini adalah adanya sebagian pemuda yang masih malu ataupun takut dalam berdoa.

Pertemuan pertama dari program ini dibawakan oleh Ketua PHMJ GKI Lembah Yordan, Bpk. Pdt. M. Pulalo, M.Th dalam bentuk seminar sehari dan mengambil tema ‘Apa itu Doa?’. Tema ini mengawali program ini sebagai pengantar agar peserta mengetahui pengertian dari doa, sikap orang Kristen dalam berdoa, serta keadaan apa yang membuat orang berdoa. Dalam materi ini, beliau menyampaikan bahwa Doa adalah nafas hidup orang kristen. Jika orang kristen tidak berdoa, berarti orang kristen tidak mampu bernafas. Beliau juga menyampaikan bahwa sikap kita dalam berdoa harus dengan rendah hati dengan mengganggap bahwa diri kita tidak layak dihadapan Tuhan. Beliau juga menjelaskan tentang pengertian dari doa syafaat. Syafaat artinya penghubung, jadi kita mendoakan pergumulan orang lain kepada Tuhan. Beliau membawakan materi dengan gaya khasnya yaitu diselipi dengan humor ringan yang berhubungan dengan materi dan sering diiringi gelak tawa dari peserta seminar. Dalam seminar ini juga dibagi 3 kelompok yang terdiri dari kelompok D, O, dan A yang membahas beberapa pertanyaan terkait dengan doa.

Seminar ini dimulai dari jam 5 sore dan berakhir pada jam 7 malam. Peserta seminar terdiri dari anggota PAM serta peserta katekisasi dan diikuti dengan antusias. Rencananya Doa Persekutuan akan dilaksanakan kembali 3 bulan kedepan dengan bentuk yang berbeda. [ Penulis : Yudi Suoth ]

Share Button

Tautan permanen menuju artikel ini: http://gkilembahyordan.org/2017/03/28/seminar-doa-persekutuan-apa-itu-doa/

Feb 27 2017

Inilah tantangan gereja di perkotaan Jayapura

14sidang-jemaat-papuaJayapura, Jubi – BP klasis kota Jayapura, Terry Ansanay mengakui kalau pertumbuhan fisik gereja di perkotaan berjalan baik tetapi secara rohani sangat memprihatinkan. Apalagi di wilayah perkotaan yang semakin padat penduduknya.

“GKI Lembah Yordan BTN Organda menjadi barometer masalah sosial di kota jayapura, kalau peristiwa yang pernah terjadi di sini langsung mendapat sorotan terutama masalah masalah soaial,” katanya usai membuka Sidang Jemaat ke VIII Gereja Kristen Injili (GKI) Lembah Yordan Organda Padang bulan Abepura, Jumat ( 24/2/2017).

Dia menambahkan hal ini menjadi tantangan bagi gereja ke depan khususnya jemaat-jemaat di daerah perkotaan terutama menyangkut minuman keras, narkoba, ganja, dan lain lain.

Hal senada juga diakui Ketua Jemaat GKI Lembah Yordan, Pdt Moses Pulalo bahwa kepadatan penduduk sangat mempengaruhi kehidupan rohani bagi warga jemaat. Oleh karena itu lanjut dia salah satu program adalah program penginjilan di dalam perkotaan termasuk membuka sekolah Alkitab bagi warga jemaat di GKI Lembah Yordan Organda.

“Sesuai dengan keputusan Sinode GKI di Tanah Papua bahwa penginjilan bisa dilakukan meliputi tiga bidang masing masing untuk masyarakat terasing, transmigrasi dan wilayah perkotaan,” katanya.

Lebih lanjut Pdt Pulalo yang baru dua bulan menjadi pelayan jemaat GKI Lembah Yordan mengakui, kalau di BTN Organda ditemui pula ada anak-anak maupun orang dewasa yang terlibat dengan miras atau mabuk ganja, narkoba, dan pencurian.

“Ini semua sudah terlihat dan terjadi di depan mata,” katanya seraya menambahkan sesuai dengan tema, menuju Jemaat yang misioner dan mandiri maka warga di sekitar juga harus mendapat perhatian dalam pelayanan.

Sementara itu Ketua Panitia pelaksana sidang jemaat ke VIII GKI Lembah Yordan, Edwin Helena Latumahina mengatakan sidang jemaat ini mempunyai makna tersendiri bagi semua pihak, terutama Majelis Jemaat GKI Lembah Yordan akan melaporkan program pelayanan selama 2016.

“Semua unsur-unsur hadir sebagai peserta pada sidang jemaat ini guna menetapkan anggaran pendapatan dan belanja gereja(APBG) serta program-program jemaat tahun pelayanan 2017,” kata Ketua Panitia Sidang Jemaat ke VIII GKI Lembah Yordan Organda.

“Sidang ini berlangsung dari 24-25 Februari 2017, tentunya kita semua berharap dan berdoa agar Allah yang mempunyai pekerjaan ini akan memanggil kita sekalian,” katanya, seraya menambahkan kalau peserta yang ikut dalam sidang jemaat dari unsur-unsur sebanyak 109 peserta termasuk anggota majelis jemaat.

Dikatakan tema sidang jemaat ke VIII adalah oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang kepada-Nya. Sedangkan sub tema, dengan berpegang pada injil kita tingkatkan tri panggilan gereja menuju jemaat yang mandiri dan misioner.

Menurut Latumahin sidang jemaat di GKI Lembah Yordan Organda sudah dilaksanakan sebanyak tujuh kali dan tahun 2017 ini merupakan yang ke VIII. “Sidang jemaat pertama pada 17 Januari 2010 secara resmi GKI Lembah Yordan berdiri dan bersidang,” katanya.

Dia mengatakan sidang jemaat adalah pemegang kedaulatan tertinggi sesuai dengan azas GKI di Tanah Papua yaitu Presbiteral Sinodal dan sudah menjadi tugas Majelis Jemaat untuk melaksanakan sidang jemaat sekurang-kurangnya dalam setahun sekali menurut aturan Tata GKI di Tanah Papua.(*)

Sumber : http://www.tabloidjubi.com/artikel-4007-inilah-tantangan-gereja-di-perkotaan-jayapura.html

Share Button

Tautan permanen menuju artikel ini: http://gkilembahyordan.org/2017/02/27/inilah-tantangan-gereja-di-perkotaan-jayapura/